Apa benar di Pesantren Ada Perbudakan?

Semenjak tragedi dan musibah Pesantren Al-Khozini, orang-orang di luar pesantren yang tidak pernah sekalipun mencicipi dunia pesantren banyak yang salah paham mengenai tradisi pesantren. Di antara yang disalahpahami adalah tradisi santri yang khidmah atau membantu kiai, ibu nyai, dan keluarga pesantren. Lantas benarkah di pesantren ada perbudakan?

Orang di luar pesantren menganggapnya sebagai perbudakan. Padahal para santri, baik yang masih nyantri ataupun sudah menjadi alumni, berebut menjadi khadim di pesantren, termasuk saya yang pernah mencicipi menjadi abdi dalem kiai di pesantren, walau tidak lama, hanya sekitar 2 bulanan.

Saat saya nyantri di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon 20 tahunan silam, saya pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren Masyariqul Anwar yang diasuh oleh almarhum K.H. Makhtum Hannan. Beliau merupakan salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) di Nahdlatul Ulama. Santri-santri yang nyantri di pesantren Kiai kharismatik Cirebon ini berasal dari berbagai macam kalangan ekonomi. Ada yang orangtuanya guru, pedagang, pejabat, dan pegawai non formal.

Bagi santri yang orangtuanya tidak mampu secara ekonomi, mereka biasanya ikut makan di dalam rumah kiai. Karena tidak enak makan secara cuma-cuma, mereka pun meluangkan waktu untuk bantu-bantu di dalam rumah kiai.

Ada yang sekedar menyapu halaman rumah kiai, ada yang mencucikan baju kiai, ada juga mencuci piring bekas makan santri lain dan keluarga kiai. Yang pintar masak, ada juga yang membantu memasak. Karena kiai adalah petani, ada juga santri ndalem yang ikut bantu panenan kiai.

Yang perlu dicatat mengenai abdi ndalem, para santri yang menjadi khadim kiai itu rata-rata berebut atas dasar keinginannya sendiri. Di pesantren itu para santri mengenal konsep berkah bila membantu kebutuhan kiai. Selain itu, para santri yang menjadi khadim kiai ini bukan anak kecil yang mesantrennya baru 1 atau 2 tahun.

Rata-rata mereka itu sudah balig dan biasanya sudah nyantri minimal 4 sampai 5 tahun. Meminjam istilah Dr. Cucun Ahmad Syamsurijal, politisi PKB yang juga keluarga pesantren, para santri yang menjadi khadim itu sudah cakap hukum.

Itulah fenomena khidmah di pesantren, khususnya yang berafiliasi dengan NU, yang kerap dianggap oleh orang luar pesantren sebagai perbudakan. Padahal para santri yang melakukan itu tidak dipaksa oleh kiai mereka. Para santri lah yang menawarkan diri menjadi khadim kiai untuk mendapatkan keberkahan hidup karena membantu ulama yang menyebarkan agama Allah.

Para santri yang menjadi khadim itu tidak dirampas kebebasannya di pesantren hanya untuk melayani kiai dan keluarganya. Mereka membantu kiai di luar jam sekolah, dan mereka masih tetap bisa belajar sebagaimana santri lainnya yang bukan khadim kiai.

Mungkin sebagian dari kita terbesit pertanyaan, apa itu diajarkan dalam Islam ya? Apa dulu juga sahabat Rasulullah kerap menjadi khadim beliau? Bukankah Rasulullah itu pribadi yang mandiri?

Sahabat Nabi Khadim Rasulullah saw.

Kalau kita merujuk sejarah Islam masa lalu, Rasulullah saw. pun juga mempunyai khadim yang kerap membantu keseharian Rasulullah atau saat beliau bepergian jauh.  

Kita sebut saja Anas bin Malik. Sahabat Nabi yang menjadi khadim sejak masih muda. Ibunda Anas bin Malik, Ummu Sulaim, berkeinginan anaknya untuk berkhidmah kepada Rasulullah.

Kala itu Ummu Sulaim (ibunda Anas bin Malik) bergegas mendatangi Rasulullah saw. bersama Anas: ”Wahai Rasulullah saw. sungguh orang-orang anshar dan prempuan-prempuan anshar telah memberimu hadiah kecuali aku, dan aku tidak menemukan sesuatupun untuk dapat aku hadiahkan kepadamu kecuali hanya anak laki-laki ku (ini). Maka terimalah dariku. Dia akan melayani keperluanmu.”   

Ada juga sahabat Abdullah bin Mas’ud yang biasanya menyiapkan sandal, siwak, dan air untuk bersuci saat Rasulullah saw. sedang bepergian jauh. Sahabat lain yang berkhidmah untuk Rasulullah saw. adalah ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani. Saat Rasulullah bepergian, ia lah yang mengendalikan tunggangan Rasulullah.

Dalam riwayat Shahih al-Bukhari, ada seorang pemuda Yahudi yang pernah berkhidmah kepada Nabi. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, mengutip pendapat ibn Bisykawal, nama pemuda itu ‘Abdul Quddus. Masih mengutip Ibn Hajar, pemuda Yahudi itu berkhidmah kepada Rasul terkait penyediaan sisir yang Rasul gunakan.

Jika ditulis secara khusus, tema mengenai sahabat-sahabat Nabi yang pernah menjadi khadim mungkin bisa dijadikan satu buku tersendiri. Ini saking banyaknya sahabat Nabi yang ingin bertabaruk kepada Nabi.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan para santri itu tidak jauh berbeda denga napa yang dulu dilakukan para sahabat untuk Rasulullah. Sekali lagi, dalam pesantren tradisional konsep berkah masih dipercaya hingga kini, bahkan oleh para alumni sekalipun yang sudah tidak di pesantren. Menilai khidmah sebagai perbudakan tentu sangat tidak tepat dan keliru. Wallahu alam.

Pesantren Arena Melatih Kepekaan Sosial dan Kedisiplinan Santri

Pesantren terkadang diibaratkan sebagai penjara oleh sebagian santri. Para napi di penjara tidak bisa beraktivitas sebebas di luar penjara. Bagitu juga santri, banyak aturan yang mengekang di pesantren. Namun, semua aturan yang terdapat di penjara ataupun pesantren adalah untuk kebaikan penghuninya.

Pesantren juga diibaratkan seperti rumah sakit. Sama-sama mengurusi dan mengobati orang sakit. Bedanya kalau rumah sakit mengobati fisik sedangakan pesantren mengobati psikis. Pasien yang pergi periksa ke dokter, adakalanya sembuh dan juga adakalanya tetap sakit. “Minumlah obat 3 kali sehari”, biasanya saran dokter begitu. “Shalatlah sehari lima waktu dengan berjamaah”, saran kiai.

Pasien ketika sudah mengikuti saran dan resep dokter, kebanyakan sembuh. Begitu juga santri, ketika sam’an watho’atan pada kiai, kebanyakan mereka menjadi insan kamil, manusia seutuhnya. Seliar apapun waktu di rumah, bisa sembuh total dengan kesungguhan hati dalam ngaji dan ngabdi.

Jiwa yang sakit bisa disembuhkan melalui pengobatan ala pesantren. Tapi kalau sakit jiwa, perlu ke rumah sakit pemerintah atau swasta. Pemabuk, pecandu narkoba, dan lainnya juga memiliki hak menjadi santri, sembuh dari penyakit fisik dan psikis. Bahkan bisa saja mereka yang dicap “sampah masyarakat” masuk surga pertama dengan sebab taatnya pada kiai di pesantren.

Apapun pengibaratannya, pondok menjadi tempat belajar terbaik sampai detik ini. “Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan” menjadi motto pesantren. Santri mengedepankan sopan santun daripada kecerdasan semata. Menjadi santri yang cerdas dan sopan adalah impian semua santri.

Santri diajarkan untuk hidup disiplin di pondok. Sejak pagi-pagi hingga beranjak tidur malam, semua tidak terlepas dari yang namanya jadwal dan aturan. Jadwal pesantren menjadikan santri pandai mengatur waktu. Dari jam sekolah, jam makan, ngaji, dan jam tidur sudah diatur rapi.

Semua kegiatan tersebut diawasi oleh kiai dan pengurus. Ada sanksi sebagai controling santri dalam berperilaku di pesantren. Punishment yang mendidik dan memberi efek jera. Santri melanggar biasanya ditandai dengan kepala botak.

Santri bukan hanya diajarkan untuk hidup disiplin dalam mengatur waktu, tapi juga menjadi manusia yang peka. Peka terhadap lingkungan sekitar. Lebih-lebih kepekaan sosial.

Saat melihat sampah berserakan, santri tidak perlu diminta untuk membersihkan, mereka akan langsung menyapu bersih. Saat ada temannya yang jatuh sakit, santri tidak perlu diminta untuk merawatnya. Sesama santri merasa seperti satu tubuh. Saat ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota akan ikut merasakannya. Begitu juga santri.

Jiwa sosial para santri, rasanya tidak perlu diragukan lagi. Ketika mereka sudah pulang ke tengah-tengah masyarakat, jiwa sosialnya bisa dipertaruhkan. Teori dan praktek dalam hal sosial sudah matang di pesantren, tinggal pengembangannya saja. Sungguh sangat beruntung bapak atau ibu yang anaknya mondok. Juga, bapak-ibu yang memiliki menantu santri.

Simpulan akhir, pesantren adalah tempat menyemai bibit-bibit positif santri. Tumbuh-kembangnya berlanjut ke tengah-tengah masyarakat. Manisnya ilmu dan berkah pondok  akan dirasakan ketika mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Wallahua’lam.

Menghormati Guru Kunci Keberkahan Ilmu

Di dunia pesantren (islamic boarding school) ada satu istilah yang sering kita dengar yaitu “keberkahan”. Kata “berkah” berasal dari bahasa Arab “barakah” yang maknanya menurut Imam al-Ghazālī, ziyādah al-khair yakni bertambahnya nilai kebaikan. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang memberikan nilai kemanfaatan dan kebaikan di dalamnya. Salah satu tandanya adalah ilmu tersebut diamalkan dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta mendatangkan kebaikan.

Oleh karena pentingnya keberkahan ilmu tersebut Imam al-Ghāzalī dalam kitabnya Ayyuhā al- Walad menasehatkan untuk para penuntut ilmu, “meskipun engkau menuntut ilmu serratus tahun, dan mengumpulkan (menghafalkan) seribu kitab engkau tidak akan bersiap sedia mendapatkan rahmat Allah kecuali dengan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Quran (QS. al-Najm: 39, al-Kahf: 110 dan 107-108, al-Taubah: 82, al-Furqān: 70) ”.

Keberkahan ilmu harus dimulai dengan niat yang lurus dan benar. Demikian pesan Imam Az-Zarnūji (1981: 32) dalam kitab Ta’līm al-Mutallim Tharīq al-Ta’allum. Beliau mengatakan, selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkannya untuk mencari keridhaan Allah SWT, mencari kehidupan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang-orang bodoh, menghidupkan agama dan melanggengkan Islam. Sebab kelanggengan Islam itu harus dengan ilmu, dan tidak sah kezuhudan dan ketakwaan yang didasari atas kebodohan.

Az-Zarnūji menambahkan bahwa dalam menuntut ilmu hendaknya juga diniatkan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan akal dan sehatnya badan. Dan tidak dibenarkan meniatkannya untuk mencari kedudukan di hadapan manusia, mencari harta duniawi, atau kemuliaan di sisi penguasa dan lainnya.

Selain niat, kebeberkahan ilmu ditentukan oleh sikap penuntut ilmu dan orang tuanya terhadap ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu tersebut yaitu guru. Az-Zarnuji mengatakan:

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الأستاذ وتوقيره

“Ketahuilah, Seorang murid tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat ilmu yang bermanfaat, kecuali ia mau mengagungkan ilmu, ahli ilmu, dan menghormati keagungan guru.”.

Islam menempatkan posisi seorang ahli ilmu pada posisi yang mulia. Di dalam al-Quran secara tegas dijelaskan bahwa tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu (QS. Al-Zumar: 9). Demikian halnya juga Allah mengangkat derajat mereka (orang beriman dan berilmu) beberapa derajat (QS. al-Hujurāt: 11).

Dalam tradisi keilmuan Islam, penghormatan (ta’dzīm) terhadap ustadz/guru benar-benar telah dipraktikkan. Dan ini menjadi kunci kejayaan peradaban Islam. Hal ini bisa kita lihat dari contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh orang-orang mulia. Misalnya, Sahabat Ali bin Abi Thalib, yang oleh Rasulullah SAW disebutkan sebagai “bab al ‘ilmi” atau pintu ilmu. Beliau mengatakan:

أنا عبد من علمني حرفا واحدا، إن شاء باع وإن شاء استرق

“Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”

Demikian pula dengan orang tua yang seharusnya memberikan penghormatan tinggi kepada para guru anak-anaknya. Di masa keemasan Islam, para orang tua sangat antusias menyekolahkan anak-anak mereka kepada para guru (ulama’). Mereka memberikan dukungan penuh disertai kepercayaan dan penghormatan tinggi kepada guru anak-anak mereka.

Suatu ketika Sulaiman bin Abdul Malik bersama pengawal dan anak-anaknya mendatangi Atha’ bin Abi Rabah untuk bertanya dan belajar sesuatu yang belum diketahui jawabannya. Walau ulama dan guru ini fisiknya tak menarik dan miskin, tapi dia menjadi tinggi derajatnya karena ilmu yang dimiliki dan diajarkannya. Di hadapan anak-anaknya ia memberi nasihat, “Wahai anak-anakku! bertawalah kepada Allah, dalamilah ilmu agama, demi Allah belum pernah aku mengalami posisi serendah ini, melainkan di hadapan hamba ini (Atha’) (Al-Qarny, Rūh wa Rayhān: 296).

Penghormatan terhadap seorang guru juga telah dicontohkan oleh Harun Ar Rasyid. Khalifah yang dikenal sebagai pemimpin yang sangat perhatian terhadap pendidikan anaknya. Dikisahkan, suatu saat beliau mengirim salah satu putranya kepada Imam al-Ashmā’ī, salah satu imam dalam ilmu nahwu untuk belajar ilmu dan adab. Ketika mengunjungi putranya, Khalifah menyaksikan al-Ashmā’ī sedang berwudhu dan membasuh kaki beliau sedangkan putranya menuangkan air ke kaki sang guru. Melihat hal itu, Khalifah pun tidak menerima dan mengatakan kepada Imam al-Ashmā’ī,”Sesungguhnya aku mengirim putraku pedamu agar engkau mengajarkan adab kepadanya. Kenapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya sedangkan tangan lainnya membersihkan kakimu?.”.

Ini menunjukkan betapa terhormatnya guru atau orang yang berilmu. Sampai-sampai sekelas khalifah atau kepala negara masa itu harus mendatanginya untuk mendapatkan ilmu serta menasihati anak-anaknya untuk belajar dan menghormati guru. Sebagai orangtua, Harun Ar-Rasyid mempercayakan pendidikan anaknya kepada guru. Biaya yang dikeluarkan oleh beliau juga tak sedikit untuk memuliakan guru. Terlebih, guru juga diberi wewenang untuk mendidik anaknya sebagaimana anak-anak lain, tanpa harus sungkan karena mendidik anak khalifah.

Contoh lain penghormatan kepada guru adalah apa yang dilakukan Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Sang Sultan sangat mencitai dan menghormati gurunya Syeikh Aaq Syamsuddin dengan kecintaan yang tinggi. Sang guru mempunyai kedudukan yang khusus dan istimewa di hati Sultan.

As-Shalābī (2006: 117) menyebutkan dalam kitabnya, Fātih al-Qasthinthīniyah, al-Sulthān Muhammad al-Fātih, suatu ketika, gurunya Syeikh Āq Syamsuddin masuk ke istana. Saat itu Muhammad al-Fatih sedang bermusyawarah dengan para pembesarnya. Melihat kedatangan gurunya, al-Fatih bangun dan menyambut gurunya dengan penuh hormat. Kemudian beliau berkata kepada perdana menteri Utsmaniyah, Mahmud Pasya, “perasaan hormatku kepada Syeikh Āq Syamsuddin sangat mendalam. Apabila orang-orang lain berada di sisiku tangan mereka akan bergetar. Sebaliknya apabila aku melihatnya (Syeikh Āq Syamsuddin) tangan aku yang bergetar.

Ini adalah sunnatullah tidak ada keberhasilan orang-orang besar dalam sejarah peradaban Islam kecuali di sampingnya ada seorang guru yang hebat yang ditempatkan pada posisi yang mulia.

Syeikh Bakr Abu Zaid Hafidzahullah memberikan nasehat kepada para penuntut ilmu dalam kitabnya, Hilyah Thālib al-‘Ilmi, pada dasarnya mengambil ilmu pertama kali bukanlah dari buku, tetapi harus dari guru yang engkau percayai memiliki kunci-kunci pembuka ilmu, agar engkau terbebas dari bahaya dan ketergelinciran. Oleh karena itu engkau harus menjaga kehormatan gurumu, karena itu adalah tanda keberhasilan, kemenangan, pencapaian ilmu, dan kesuksesan. Hendaknya gurumu menjadi sosok yang engkau hormati, engkau muliakan, engkau hargai, dan engkau perlakukan dengan santun.

Di antara salah satu bentuk penghormatan kepada guru adalah jika terlihat kesalahan dari gurumu atau kekeliruan, janganlah engkau menganggapnya jatuh harga dirinya dalam pandanganmu, karena yang seperti itu akan menjadi sebab terhalanginya dirimu dari mendapat ilmunya. Siapakah yang bisa terbebas secara total dari kesalahan?. (Abu Zaid, 2002: 36)